IEA Prediksi Lonjakan Kapasitas Energi Terbarukan Global: Peluang Strategis Indonesia 2030

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:32:31 WIB
IEA Prediksi Lonjakan Kapasitas Energi Terbarukan Global: Peluang Strategis Indonesia 2030

JAKARTA - Laporan tahunan Renewables 2025 yang dirilis oleh International Energy Agency (IEA) membawa kabar optimistis bagi peta jalan energi dunia.

Dalam laporan tersebut, IEA memproyeksikan bahwa kapasitas listrik energi terbarukan global akan tumbuh lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030.

Secara akumulatif, bumi diprediksi akan memiliki tambahan kapasitas hijau sebesar 4.600 gigawatt (GW) hingga akhir dekade ini. Jika dikalkulasikan, angka raksasa ini setara dengan gabungan total kapasitas pembangkit listrik milik China, Uni Eropa, dan Jepang saat ini.

Fenomena ini dipandang sebagai "angin segar" bagi upaya mitigasi krisis iklim global. Meski dibayangi oleh tantangan rantai pasok yang ketat, biaya pembiayaan yang merangkak naik, serta dinamika politik di negara-negara maju, laju transisi energi tampaknya sulit untuk dibendung. Tenaga surya, khususnya solar PV, tetap menjadi primadona utama yang memimpin barisan transisi ini berkat efisiensi biaya dan proses perizinan yang kian ringkas.

Dominasi Solar PV dan Visi Besar Transisi Energi

Menurut catatan IEA, sekitar 80 persen dari total tambahan kapasitas energi terbarukan global hingga 2030 akan disumbang oleh solar PV. Sektor lain seperti angin, hidro, bioenergi, dan panas bumi mengekor di belakangnya. Pertumbuhan masif ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah perubahan struktural dalam cara dunia memproduksi energi.

Surya Darma, Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES), memberikan apresiasi tinggi terhadap laporan ini. Kepada Dunia Energi pada Selasa (3 Februari 2026), ia menyatakan bahwa tambahan 4.600 GW adalah angka yang luar biasa besar bagi masa depan planet. “Ini kabar yang sangat menyegarkan di tengah isu krisis iklim. Bayangkan, tambahan 4.600 GW itu bukan jumlah yang kecil—itu seperti membangun tulang punggung energi baru untuk seluruh planet hanya dalam hitungan tahun,” ungkap Surya Darma.

Ia menilai laporan IEA bukan sekadar deretan angka statistik, melainkan sinyal kuat bahwa transisi energi telah menjadi arus utama global. Hal ini membawa dampak domino, terutama pada penurunan biaya teknologi. Meledaknya kapasitas global akan menciptakan skala ekonomi yang membuat harga panel surya dan sistem penyimpanan energi (Energy Storage System) menjadi jauh lebih terjangkau bagi pasar domestik seperti Indonesia.

Posisi Strategis Indonesia di Tengah Arus Pendanaan Hijau

Selain penurunan harga teknologi, tren global ini membuka keran akses pendanaan hijau yang lebih luas. Investor internasional dan lembaga donor kini semakin agresif mengalihkan modal dari sektor fosil ke proyek energi bersih di negara berkembang. Indonesia, melalui skema seperti Just Energy Transition Partnership (JETP), berada dalam posisi yang diuntungkan untuk menyerap modal tersebut.

Surya Darma menjelaskan bahwa tren ini juga akan memacu percepatan target emisi nasional. “Akan berdampak pada percepatan target emisi. Indonesia kemungkinan akan merasa perlu menyelaraskan kembali target Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) agar tidak tertinggal dari standar rantai pasok global yang semakin hijau,” jelasnya.

Secara kuantitas, Indonesia mungkin belum menyamai raksasa energi seperti China. Namun, secara kualitatif, posisi Indonesia sangatlah vital. Sebagai pemilik cadangan panas bumi terbesar di dunia, Indonesia merupakan pemain kunci di sektor geothermal global. Selain itu, Indonesia berperan sebagai "paru-paru karbon" dan pusat pengembangan bioenergi melalui program B35/B40 serta potensi Carbon Capture Storage (CCS). Tak kalah penting, cadangan nikel yang melimpah menempatkan Indonesia sebagai pusat rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV) dunia.

Tantangan Struktural dan Masalah Integrasi Jaringan Listrik

Namun, di balik optimisme tersebut, Surya Darma mengingatkan bahwa laporan IEA hanyalah sebuah katalis, bukan solusi instan. Indonesia masih harus berhadapan dengan kendala struktural internal yang kompleks. Salah satu isu utama adalah integrasi jaringan (grid integration). Sifat listrik surya yang intermiten atau tidak stabil menuntut investasi besar pada teknologi Smart Grid.

Selain itu, sinkronisasi regulasi antara pemerintah pusat, daerah, dan PLN seringkali masih menjadi sandungan bagi pengembang swasta. Masalah lain yang tak kalah pelik adalah kondisi oversupply listrik dari pembangkit batubara. “Indonesia masih memiliki tantangan oversupply listrik dari pembangkit batubara. Prediksi global tidak otomatis membatalkan kontrak-kontrak pembangkit fosil yang sudah ada tanpa kebijakan pensiun dini yang kuat,” tegas Surya Darma.

Di sisi lain, laporan IEA juga menyoroti bahwa panas bumi diprediksi akan mencetak rekor pemasangan baru di pasar-pasar kunci seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia. Untuk mengatasi tantangan integrasi, minat terhadap pumped-storage hydropower diperkirakan melonjak 80 persen lebih cepat dalam lima tahun ke depan dibandingkan periode sebelumnya.

Dinamika Global: Antara Optimisme India dan Tantangan China

Di kancah internasional, kawasan Asia, Timur Tengah, dan Afrika menunjukkan pertumbuhan pesat berkat kebijakan agresif dan lelang energi baru. India bahkan diprediksi akan menjadi pasar pertumbuhan energi terbarukan terbesar kedua di dunia setelah China, dengan target 2030 yang diyakini dapat tercapai tanpa hambatan berarti.

Meskipun demikian, tidak semua sektor berjalan mulus. Sektor angin lepas pantai (offshore wind) mengalami revisi turun akibat hambatan rantai pasok dan kenaikan biaya. IEA juga sedikit menurunkan proyeksi pertumbuhan di Amerika Serikat akibat perubahan regulasi dan insentif pajak, serta di China karena peralihan sistem tarif ke mekanisme lelang.

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, dalam laporannya mengingatkan para pembuat kebijakan untuk tetap waspada terhadap risiko konsentrasi rantai pasok. Hingga 2030, dominasi China pada segmen produksi kunci panel surya diprediksi masih di atas 90 persen. “Seiring meningkatnya peran energi terbarukan dalam sistem kelistrikan di banyak negara, pembuat kebijakan perlu memberi perhatian serius pada keamanan rantai pasok dan tantangan integrasi jaringan,” pesan Birol.

Pada akhirnya, transisi ini juga merambah ke sektor transportasi dan pemanas. Pangsa energi terbarukan di sektor transportasi diproyeksikan naik, didorong oleh kendaraan listrik dan biofuel, di mana Indonesia menjadi salah satu kontributor utama melalui pengembangan bahan bakar nabati. Lonjakan ini menjadi tanda nyata bahwa dunia tengah bergerak menuju ekosistem energi yang lebih bersih, fleksibel, dan berkelanjutan.

Terkini